PASIEN GAKINDA KAB. BANDUNG DITOLAK RSHS

RSHS telaj memberhentikan Pasien Gakinda  Kabupaten Bandung,  dimulai dari hari senin Tanggal 18 Januari 2010, hal ini diarenakan tunggakan yang belum di bayar oleh Pemerintah Kabupaten Bandung sebesar 19 Milyar, rencananya sebelum tunggakan dibayar pihak RSHS tidak akan menerima Pasien Gakinda asal Kab, Bandung

Alternatif lain

Rumah sakit Ujung berung yang akhirnya jadi sasaran akhir, karena di sana masih menerima pasien Gakinda

Menurut dia, setelah dua hari ke RSHS membawa adiknya untuk melanjutkan operasi kedua pembuatan lubang dubur, dirinya dipinta membayar seperti kelas biasa. ”Karcis C umum Rp 20 ribu, tes darah adik saya Rp 290 ribu SENIN, (18/1), karcis 20 ribu, rongsen Rp 40 ribu ,” tuturnya.

Langkah ini merupakan lanjutan operasi kedua untuk adiknya. ”Ketika biaya rawat inap serta operasi pertama yakni operasi kolostomi pembuatan lubang pembuangan pinggir sementara adik saya mencapai Rp 5 juta dan itu ditaggung Gakinda. Sekarang ini adik saya harus menjalani operasi kedua yakni operasi pos kolostomi atau pembuatan lubang dubur yang tentunya diperkirakan akan sampai jutaan uang dari mana,” keluhnya.

Asep menambahkan, petugas karcis RSHS juga menerangkan bahwa pasien Gakinda dari KBB, Kabupaten Bandung dan Cimahi harus berbekalkan rekomendasi dari Dinkes serta dari kepala daerah masing-masing. ”Ya kalau untuk KBB saya harus mempunyai rujukan dari Dinkes KBB, RS Cibabat serta rujukan Bupati KBB untuk memperkuat persyaratan pasien Gakinda KBB di RSHS,” tambahnya.

Selain itu, sebut dia, tiga rekomendasi ini juga sangat memberatkannya. ”Ya sangat berat. Untuk mendapatkan rekomendasi dari Dinkes, RS Cibabat bahkan Bupati KBB sangat susah dan memakan waktu lama,” sebutnya.

Sementara itu, Sekertaris Dinkes KBB, Iwan Mulyawan mengatakan, langkah yang ditempuh RSHS ini masuk akal. ”Mungkin RSHS ingin ada kepastian dulu kapan sisa utang Gakinda KBB dibayar. Namun yang jelas dari total utang Gakinda KBB ke RSHS yang mencapai Rp 7 miliar lebih Kab. Bandung 19 Milyar ,,” katanya.

Menurutnya, pihaknya juga berjanji akan melunasi tunggakkan tagihan Gakinda tahun 2008 dan 2009 ke RSHS. ”Namun kami menungu di APBD 2010 ini,” tuturnya.

Iwan menambahkan, tingginya tagihan utang Gakinda tidak lepas dari membengkaknya pasien Gakinda. ”Hingga akhir 2009 saja pasien rujukan  di RSHS,    Wajar jika jumlah tagihan Gakinda KBB setiap tahunnya membengkak,” tambahnya.

Iwan juga mengaku akan segera melakukan evaluasi dan pengkajian ulang Gakinda KBB dengan pihak terkait. ”Yang menangani Gaklinda KBB bukan hanya Dinkes KBB tapi juga bagian pemerintahan lainnya. Misalnya menyangkut masalah pendataan, anggaran, serta pelayanan Gakinda yang menjadi lahan Dinkes KBB. Namun yang harus dievaluasi mendalam adalah pendataan sehingga pasien Gakinda benar tepat sasaran,” jelasnya.

2 Komentar

  1. Februari 19, 2010 pada 4:14 pm

    kadang-kadang alasan mereka menolak pasien itu ga masuk diakal yaa
    padahal kan kewajibannya nolongin orng sakitt

    tapii mungkinmereka punya pertimbangan masing-masing ..

    btw,
    gakinda apaan yaa ?
    hho

  2. khafif said,

    Oktober 25, 2010 pada 12:13 pm

    dilema memang,,, saat seorang petugas kesehatan dihadapkan pada keadaan seperti ini,,, mereka punya kewajiban melayani masyarakat tetapi mereka jg benar2 membutuhkan biaya tuk kelencaran pengobatan, karena gimana pn jg dokter yg memeriksa, obat yang diberikan dan fasilitas yg digunakan bukan lah hal yg cuma2,,,
    semoga para petugas DINKES dan RS bisa lebih amanah dalam menjalankan tugasnya,,, agar semuanya bisa berjalan deng baik n lancar Aamiin,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: